Kamis, 12 Juli 2012

Melukat, Pembersih Jiwa, Pembasuh Raga

Ada sebuah tradisi di Bali yang sampai saat ini masih bertahan dan kerap dilakukan oleh hampir sebagian besar umat Hindu di daerah pariwisata ini. Melakukan pembersihan diri dengan ritual tertentu yang kalau di Bali lebih dikenal dengan istilah melukat.

Sarana utama ritual melukat ini adalah air. Nah, air inipun bukan sembarang air. Melukat bisa dilakukan di air sungai, danau, laut, sumber air alami/kelebutan,bulakan, dan lain-lainnya. Tujuan utama ritual ini adalah menghilangkan leteh atau kotoran lahir maupun bathin. Dalam tradisi masyarakat Kejawen dikenal dengan istilah ruwatan air.

Kenapa Pakai Air?



Seperti kita ketahui bersama, air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Sampai kapanpun, air akan menjadi sumber hidup dan kehidupan umat manusia di muka bumi ini. Dalam hal ritual melukat, keberadaan air adalah sebuah KEHARUSAN! Melukat tanpa air sama aja bohong. Namun lain cerita kalau melukat itu dilakukan dengan kekuatan bathin. Dalam arti melakukan pengelukatan/pembersihan dengan kekuatan niskala, dengan catatan, diperlukan tingkat jnana yang tinggi.

Tempat Melukat di Bali

1. Pura Tirtha Empul

Pulau Dewata Bali, dikenal sebagai gudangnya tempat ritual melukat, sebut saja yang paling terkenal, adalah Pura Tirtha Empul Tampaksiring, Gianyar.Di pura yang bersebelahan dengan Istana Presiden ini, terdapat beberapa pancuran yang mana setiap pancuran memiliki fungsi masing-masing. Contoh misalnya, pancuran Pengeleburan Ipian Ala, berfungsi sebagai pancuran untuk melebur efek mimpi buruk, dan lain sebagainya. Pura Tirtha Empul letaknya di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring Gianyar Bali.Kalau dari Denpasar sekitar 40km.Dan belakangan ini, pura yang memiliki legenda Mayadenawa ini, didatangi bukan hanya oleh umat Hindu, juga oleh umat lain yang ingin melakukan ritual pembersihan/melukat. Pengelukatan sangat baik dilakukan pada hari Purnama(bulan purnama) atau Tilem (Bulan mati), dsamping juga hari-hari suci Hindu-Bali seperti Kajeng Kliwon, Tumpek dan lainnya. Kenapa hari-hari tertentu?Karena diyakini pada hari-hari tersebut sebagai hari suci, sakral dan kekuatan alam semesta terakumulasi dan bisa diserap oleh manusia. Sarana apa saja yang perlu disiapkan? Bagi yang pertama kali pedek tangkil kesana, diwajibkan untuk membawa Daksina Pejati/Peras Daksina jangkep, sebagai bahan permakluman kepada kekuatan niskala yang bersemayam disana. Sedangkan bagi yang sudah sering diperbolehkan untuk membawa canang sari, atau sodaan.Sebelum ritual melukat pastikan bahwa diri anda tidak dalam keadaan "sebel" social ataupun personal bagi yang yang wanita. Dan pada saat ritual mulai para peziarah melukat ini wajib hukumnya mengenakan pakaian/kain begitu masuk ke dalam kolam pancuran. Niat yang tulus, hati yang ikhlas, segarnya air pancuran tirtha Empul, menjadi jaminan bagi anda akan "terlahir kembali"dengan jiwa dan semangat baru. So, kalau anda tertarik melukat di Pura ini, silakan datang langsung.

2. Pura Tirtha Empul Gunung Kawi, Sebatu Tegallalang, Gianyar

Pura yang satu ini, letaknya cukup jauh dari kota Denpasar, terletak di ujung utara kabupaten Gianyar, yakni di Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Namun anda jangan sampai keliru, karena Pura Gunung Kawi ada dua; satunya yang di kecamatan Tampaksiring(terkenal dengan Candi Tebingnya), sedangkan yang ini, dengan kolam sakralnya yang sangat dikeramatkan. Kurang lebih sekitar 60km dari arah kota Denpasar. Menurut sejarahnya, Pura ini erat kaitannya dengan kisah perjalanan Rsi Sakti dari negeri India, Rsi Markendya(peletak dasar pulau Bali dengan menanam Panca Datu Di Besakih). Uniknya, di Pura ini, ada kolam biasa yang sering di pakai umat mandi(bukan ritual), dan kolam keramat yang menjadi tempat melukat. Ada sekitar 10 pancuran, yang seperti pancuran di Tampaksiring, juga memiliki fungsi masing-masing.
Sarana banten yang diperlukan adalah sama seperti di Tirtha Empul Tampaksiring, cuman yang membedakan, baik pemedek lama maupun baru disarankan menggunakan sarana daksina pejati.

Ada Kejadian menarik, ketika penulis melakukan ritual penglukatan ditempat ini, pada saat akan mengguyur tubuh ini pada pancuran terakhir yang terletak paling ujung, pemangku Pura,"menginstruksikan" agar penulis mengguyur diri lebih lama. Ajaibnya, begitu, penulis selesai tiba-tiba air kolam menjadi agak sedikit keruh; seperti ada buih shampoo, Pemangkunya manggut-manggut, beliau berujar"ini kotoran lahir biasa nak!, tidak apa-apa. Menurut dia, malah sering ada yang lebih parah lagi, ada yang sampai kerasukan/kesurupah begitu harus diguyur oleh air pancuran yang terakhir dan buih yang tampak bergumpal-gumpal seperti buih sabun limbah. Wow,...ajaib sekali.

Sebenarnya, masih banyak Pura-Pura di Bali yang "menyediakan"tempat melukat, seperti Pura Tamba Waras, Tabanan, Pura Lempuyang Luhur(Tirtha Tunggang, air keluar dari bambu keramat), dll. Perlu diingat 1000x pun kita melukat kalau tidak diimbangi dengan menjalankan Tri Kaya Parisudha(pikiran, perkataan dan perbuatan yang baik), semua ritual diatas pastinya sia-sia belaka. Anda ingin melukat?