Rabu, 26 Juni 2013

Sloka, Arti dan Implementasinya


1.      BHAGAVAD-GITA BAB V Sloka 11.
a.       Bunyi Sloka :
Daridraya-nasanam danam
Silam durgati-nasanam
Ajnana-nasim prajnya
Bhavana bhaya-nasini.
b.      Arti Sloka :
Kedermawanan menghapuskan kemiskinan, perbuatan yang baik menghilangkan kemalangan, kecerdasan rohani menghapuskan kegelapan/kebodohan, dan bahaya atau rasa takut bisa dihilangkan dengan merenungkannya baik-baik.
c.       Contoh Kontekstual :
Kedermawanan, perbuatan yang baik, kecerdasan rohani, dan merenungkan segala sesuatu dengan baik-baik, niscaya semua kemiskinan, kebodohan, dan bahaya atau rasa takut bisa dihilangkan. Sebagai contoh di masyarakat, perbuatan-perbuatan seperti yang diatas akan menghantarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Tuahan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai segala pencipta alam semesta ini. Karena seperti yang kita ketahui kecerdasan rohani yang dimiliki manusia akan mampu menempatkan dirinya selalu dalam keadaan sadar. Namun tak jarang kita melihat banyak orang-orang di masyarakat terutama para pemuda yang justru terlibat dalam dunia-dunia kegelapan, seperti meminum-minuman keras, berjudi dan sebagainya. Hal seperti harus dihindari dengan meningkatkan kecerdasan rohani bagi paa pemuda dengan melakukan dan menekuni ajaran dhama. Dan apabila mulai dari sejak dini kita menanamkan kedermawanan, maka kemiskinan akan terhapus, seperti ketika ada salah satu orang kaya di desa saya yang sangat senang untuk berdana punia dan memberikan sedekah bagi mereka yang mengalami kesusahan serta dengan usahanya yang mampu menyerap langan kerja yang banyak. Selain itu, saya sering merenungi kegiatan-kegiatan salah yang saya lakukan, karena dengan begitu kita akan tahu dan menyadari kesalahan yang kita lakukan dan bahaya atauun rasa takut yang kit alami akan dapat dihindari.

2.      BHAGAVAD-GITA BAB XI Sloka 8.
a.       Bunyi Sloka :
Na veti yo yasya guna-prakarsam
Sa tam sada nindati natra citram
Yatha kirati kari-kumbha-labdaham
Muktam prityajya vibharti gunjam.

b.      Arti Sloka :
Hal ini tidak usah membuat heran, bahwa orang yang belum mengetahui sesuatu dengan sebenarnya selalu menjelek-jelekan hal yang belum diketahui secara jelas. Seperti halnya permaisuri para kirata ( golongan pemburu pada zaman purba ) menolak permata dari kepala gajah, sebaliknya memakai perhiasan biji gunja ( biji-bijian yang terdapat di semak belukar.
c.       Contoh Kontekstual :
Manusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dianugrahakan kemampuan dalam berpikir. Dimana dengan kemampuan yang dimiliki oleh manusia ini, manusia dapat memilah-milah mana perbuatan baik dan mana perbuatan yang tidak baik (wiweka). Dalam konteks sloka BHAGAVAD-Gita Bab XI Sloka 8 diatas yang pada intinya yaitu “tidak heran bagi kita menjelek-jelekan sesuatu yang belum jelas kita ketahui”. Sebagai contoh ketika kita melihat seseorang yang berpenampilan acak-acakan dan kelihatan kurang sopan, belum tentu isi hatinya sama dengan penampilannya. Seperti salah satu teman saya yang memang dalam kehidupannya sering bergaul dengan orang-orang pemabuk. Banyak gosip-gosip jelek yang menimpanya di masyarakat. Pernah saya mendengar para penduduk masyarakat setempat mengatakan kalau dia pernah menghamili seorang wanita. Hal tersebut terbantahkan, karena seiring dengan berjalannya waktu sampai sekarang dia juga belum menikah. Dalam kehidupan sehari-sehari saya sering berbincang0bincang dengan nya dani dia sering melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Seperti misalnya, ia sering membantu orang tuanya membawa belanjaan ke pasar, dan pernah pada suatu hari saya di bantu olehnya ketika saya lupa membawa uang. Dia dengan senang hati dan ikhlasnya memberikan saya pinjaman uang. Pada waktu itu saya sangat bersyukur, karena dengan bantuannya rasa malu saya jadi terhindar. Itulah sebabnya kita sebagai manusia tidak boleh memandang orang hanya dari kulit luarnya saja dan menjelek-jelekan hal-hal yang belum kita ketahui pasti. karena perbuatan tersebut bertentangan dengan ajaraan agama hindu khususnya Tat Twam Asi yang mengajarkan kita tentang bagaimana jika kita ingin dihargai maka kita harus mengahargai orang lain. 

3.      BHAGAVAD-GITA BAB VII Sloka 12.
a.       Bunyi Sloka :
Natyantam saralair bhavyam
Gatva pasya vanasthalim
Chidyante saralas tatra
Kubjas tisthanti padapah,
b.      Arti Sloka :
Janganlah hidup terlalu lurus atau terlalu jujur, sebab begitu Anda pergi ke hutan Anda akan melihat bahwa pohon-pohon yang lurus ditebang, sedangkan pohon-pohon yang bengkok dibiarkan hidup.
c.       Contoh Kontekstual :
Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang mulia, orang yang memiliki sifat jujur biasanya dapat mendapat kepercayaan dari orang lain. Sifat jujur merupakan salah satu rahasia diri seseorang untuk menarik kepercayaan umum karena orang yang jujur senantiasa berusaha untuk menjaga amanah. Namun dalam kehidupan di dunia ini kita juga tidak selamanya bisa berbuat jujur adakalanya pada suatu kejadian ataupun situasi dan kondisi yang membuat kita harus berbohong. Yang dimaksud berbohong disini adalah berbohong demi kebaikan. Sama seperti sloka diatas yang menyebutkan ada kalanya kita melliihat pohon-pohon lurus ditebang dan pohon-pohon yang bengkok dibiarkan. Pernah suatu hari saya menglami suatu kejadian ataupun kondisi yang mengharuskan saya untuk berbohong. Kita tahu sebagai seorang Ibu, ia memang selalu mengkhawatirkan anaknya apalagi ketika anaknya sakit. Langsung saja saya ceritakan, waktu itu saya akan pergi ke Singaraja untuk kuliah dan kebetulan pada waktu itu saya lagi sakit. Dan Ibu saya sebenarnya sudah tidak mengizinkan saya untuk kuliah. Tapi yang namanya mahasiswa kuliah merupakan suatu kewajiban yang harus dijalani. Ketika mau berangkat Ibu saya bertanya kepada saya “dek.., dengan siapa berangakat ke Singaraja?”. Dengan perasaan ragu saya menjawab “dengan Agus (teman saya) bu…”. Namun kenyataan sebenar saya pergi sendirian mengendarai sepeda motor. Hal ini saya lakukan karena saya tidak ingin melihat Ibu saya cemas dan khawatir dengan keadaan saya, apa lagi ia sampai sakit karena memikirkan saya. Itulah salah satu contoh kecil yang mana dalam kehidupan kita ini kondisi dan situasi yang membuat kita untuk berbohong.

4.      NITI SATAKA BAB II Sloka 10.
a.       Bunyi Sloka :
Bhimam vanam bhavati tasya puram pradhanam, sarvo janah svajanatamupayati tasya, krtsna ca bhurbhavati sannidhiratnapurna, yasyasti purvasukrtam vipulam narasya.

b.      Arti Sloka :
Seseorang yang melakukan karma yang baik dan benar, baginya hutan rimba bagaikan istana yang indah, semua manusia dan mahluk menjadi sahabat, dan seluruh bumi dipenuhi dengan kekayaan

c.       Contoh Kontekstual :
Perbuatan baik dan benar adalah perbuatan yang patut kita contoh dan diteladani, sebagaimana yang tercantum dalam sloka diatas apa bila kita ingin memiliki kehidupan yang damai dan indah, maka berbuatlah yang baik dan benar. Kita sebagai umat hindu yang yakin dengan adanya hukum karma phala, memang patut untuk selalu berbuat baik dan benar karena dari perbuatan baik dan benar itu pahala yang kita dapatkan juga baik serta dunia yang kita tempati ini akan terasa lebih indah. Sebagai contoh kecil, apabila kita suka dan sering membantu orang yang kesusahan, maka sewaktu-waktu ketika kita mengalami kesulitan atau kesusahan pasti ada saja yang akan membantu kita pada saat itu. Misalnya pengalaman yang pernah saya alami, ketika pada waktu itu saya melihat teman Sekolah Menengah Pertama saya sebut saja namanya Tonok yang sedang mendorong sepeda motornya. Disitu saya menyapa dan menanyakan “kenapa dengan motornya?”. Dan ia menjawab “Oow, ni ban motor saya lagi kempes”. Pada saat itu saya langsung membantunya dengan mencarikan bengkel terdekat untuk menambal ban. Selang beberapa menit, akhirnya motornya sudah bisa dinaiki lagi dan ia kelihatan sangat senang dan lanngsung menngucapkan banyaak-banyak terima kasih. suatu hari kira-kira dua bulan setelah kejadian itu, saya berencana akan pergi kerumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok. Namun pada waktu itu kedua orang tua saya lagi sibuk bekerja dan dirumah sangat sepi, sehingga tidak ada yang saya suruh untuk mengantar ke rumah teman saya. Akhirnya saya pun memutuskan untuk berjalan kaki. Di perjalanan tiba-tiba ada Tonok yang mengendarai sepeda motornya dan berhenti didepan saya. Lalu ia bertanya “eh.., satya kok jalan kaki? Biasanya kan diantar sama orang tua mu”. “ni orang tua saya lagi kerja jadi tidak ada yang mengantar” Jawab saya. “oow, kalau begitu bagaimana kalau saya yang mengantr kamu?, hitung-hitung balas budi ketika kamu menolong saya pada waktu ban sepeda motor saya kempes”. “benar ni? Apa tidak merepotkan?” sahut saya dengan candaan. “aaah, ngak kok, kita sebgai manusia memang harus saling bantu membantu”. Jawabnya. Akhirnya kami pun pergi bersama. Inilah salah satu contoh implementasi dari sloka diatas, dimana perbuatan yang baik dan benar akan memperindah suasana yang tadinya kelihatan buruk. Dan seluruh mahluk di dunia ini begitu kelihat damai yang diwarnai dengan persahabatan yang saling bantu membantu.   

5.      BHAGAVAD-GITA BAB XII Sloka 13-14
a.       Bunyi Sloka :
Advesta sarva-bhutanam
Maitrahkaruna evaca
Nirmamo nirahankarah
Sama-duhkha-sukhah ksami
Santustah satatam yogi
Yattma drdha-niscayah
May arpita-mano-buddhir
Yo mad-bhaktah sa me priyah
b.      Arti Sloka :
Mereka yang tidak iri hati terhadap semua mahluk hidup, berteman, murah hati, bebas dari rasa kepemilikan, bebas dari keakuan palsu, bersikap sama dalam suka maupun dalam duka, bersifat pengampun, berpuas hati, selalu berada dalam kesadaran sebagai seorang yogi, mengendalikan pikiran dan indra-indra, kemantapan bathin yang baik, pikiran dan kecerdasan senantiasa terpusatkan pada-Ku, siapa pun menyembah-Ku yang seperti itu, maka dia sangat Aku sayangi.
c.       Contoh Kontekstual :
Seperti yang kita ketahui Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah maha pengasih dan penyayang bagi setiap mahluk yang diciptakannya tidak terkecuali manusia yang diberikan kemampuan yang lebih dari mahluk lain yaitu dengan di karuniainya sebuah pikiran atau idep. Dari pikiran itu manusia senantiasa dapat berbuat baik dan berbuat jahat atau buruk. Namun dari makna sloka yang diartikan diatas, beliau hanya akan menyayangi bagi mereka umatnya yang menjunjung tingi kebaikan dan menjalankan ajaran dharma baik itu mulai dari dengan tidak iri hati antar sesama, bebas dari rasa kepemilikan dan sebagai yang terdapat dalam sloka diatas. Sebagai salah satu contoh orang yang berbuat baik, yang disayangi tuhan adalah paman saya sekaligus seorang tokoh masyarakat yang ada di lingkungan masyarakat tempat tinggal saya. Yang memang beliau dikenal memiliki hati yang baik yang selalu senang dan ikhlas membantu sesama tanpa memikirkan pahalanya. Ia pernah bilang salah satu tujuan dari hidupnya adalah membantu orang yang kesusahan. Dan beliau tidak pernah membalas dendam ketika ada orang yang ingin menjatuhkannya. Pernah suatu hari di masa kepemimpinannya menjadi kepala desa beliau mengalami sakit yang amat parah. Sampai-sampai dokter tidak mengetahui penyakit yang dialami beliau dan kurang lebih beliau dirawat selama 2 bulan di rumah sakit. Namun mungkin karena kebaikan yang dilakukan oleh beliau selama ini, tiba-tiba hanya dengan berdoa dan berdoa kepada tuhan beliau sembuh dari penyakit yang dideritanya. Hal ini membuktikan bahwa bagi mereka yang berbuat baik yang mampu mengendalikan pikiran dan indra-indra, tidak iri hati terhadap semua mahluk hidup, berteman murah hati, bebas dari rasa kepemilikan, keakuan palsu, dan bersikap sama dalam suka mapun duka sangat akan disayangi dan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

 source : Satya Dharma