Jumat, 20 April 2012

Tips Mengobati Luka Akibat Tomcat

Tomcat adalah hewan sejenis kumbang yang memiliki nama latin Paederus riparius. Ia hidup di daerah yang lembab dan umumnya akan mengikuti cahaya dari lampu. Serangga ini biasanya berfungsi mengusir dan memakan jenis kutu dan hewan kepik hama padi.
Namun jika sampai menyerang manusia maka hal ini sudah menjadi wabah dan serangga Tomcat ini seringkali muncul saat hari menjelang petang dan ketika itu masyarakat mulai menyalakan penerangan lampu.

Tomcat akan mengeluarkan cairan (racun) dari dalam tubuhnya jika bersentuhan dengan kulit manusia. Racun ini akan menyebabkan gatal-gatal dan juga menimbulkan luka panas di kulit.
Jika seseorang terkena racun dari serangga ini maka secepatnya dibersihkan lalu diberikan obat anti alergi misalnya salep hydrocortisone atau betametasone supaya reaksi yang muncul tidak berlebihan.
Seseorang yang terkena partikel atau cairan dari serangga Tomcat dapat mengalami reaksi mulai dari yang ringan sampai parah. Partikel yang terdapat pada serangga jenis Kumbang Rove ini merupakan sejenis protein atau bahan racun biologis asing bagi kulit. Bagi kebanyakan orang, partikel ini dapat menimbulkan dermatitis, tetapi bisa tidak pada beberapa orang.
Reaksi yang ditimbulkan di tubuh berbeda setiap orang, buat yang tidak alergi mungkin hanya menimbulkan merah sedikit saja. Tapi kalau orang tersebut memiliki reaksi alergi berlebihan atau sensitif tinggi terhadap alergen, maka perlu ditangai secepatnya,
Untuk reaksi yang ringan, partikel kumbang ini hanya akan menyebabkan peradangan ringan di sekitar kulit. Pada tahap ini, pengobatan biasanya dapat dilakukan dengan pemberian antiradang yang dioleskan.
Tetapi untuk reaksi yang berat, pengobatan akan lebih kompleks. Partikel bisa saja masuk ke aliran darah, sehingga peradangan kulit menyebar luas menyebabkan kulit merah, bengkak dan melepuh. Infeksi dapat menyertai apabila bersama partikel terkandung bakteri ditandai dengan gelembung mengandung nanah yang timbul beberapa hari kemudian. Pada tahap ini, pengobatan yang dilakukan tidak bisa lagi obat luar tetapi harus sistemik (diminum atau suntik), selain obat antiradang, tetapi juga diperlukan antiinfeksi.